Diabetes Melitus Pada Lansia

Diabetes Melitus Pada Lansia

 

Diabetes Melitus Pada LansiaDiabetes Melitus – Sejalan dengan bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh manusia akan menurun. Kondisi ini akan mengakibatkan kerentanan tubuh terhadap serangan penyakit, termasuk diabetes melitus (DM). Pada lansia, sama seperti nonlansia, mengontrol diabetes sangatlah penting agar terhindar dari komplikasi akut (hipoglikemia, dehidrasi ringan) maupun komplikasi kronis (stroke, penyakit jantung koroner, kebutaan, impotensi).

Usia lanjut merupakan masa usia di mana terjadi perubahan-perubahan yang menyebabkan terjadinya kemunduran fungsional pada tubuh. Salah satunya adalah terjadinya penurunan produksi dan pengeluaran hormon yang diatur oleh enzim-enzim yang juga mengalami penurunan pada usia lanjut. Salah satu hormon yang menurun sekresinya pada usia lanjut adalah insulin. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya penyakit diabetes melitus pada usia lanjut. Namun demikian, beberapa faktor resiko seperti resistensi insulin akibat kurangnya massa otot dan terjadinya perubahan vaskular, kegemukan akibat kurangnya aktivitas fisik yang tidak diimbangi dengan asupan makanan yang adekuat, sering mengkonsumsi obat-obatan, faktor genetik, dan keberadaan penyakit lain yang memperberat diabetes mellitus, juga memegang peran penting.

Penyakit diabetes melitus yang terdapat pada usia lanjut mempunyai gambaran klinis yang bervariasi luas, dari tanpa gejala sampai dengan komplikasi nyata dan kadang-kadang menyerupai penyakit atau perubahan yang biasa ditemui pada usia lanjut. Keluhan umum pasien diabetes melitus seperti poliuria, polidipsia dan polifagia, pada DM usia lanjut tidak ada. Umumnya pasien datang dengan keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada usia lanjut, respon tubuh terhadap berbagai perubahan/gejala penyakit mengalami penurunan. Biasanya yang menyebabkan pasien usia lanjut datang berobat adalah karena gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan biasa.

Sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2006 menyatakan bahwa separuh dari penderita penyakit diabetes melitus terdeteksi saat pasien berusia > 60 tahun, dengan prevalensi terbesar pada usia > 80 tahun. Diperkirakan, jumlah penderita diabetes melitus akan mencapai 40 juta pada tahun 2050. Selain mengakibatkan semakin rentannya para pasien terhadap serangan penyakit, kemungkinan komplikasi juga akan meningkat. Harus kita ingat pula bahwa pasien dengan diabetes melitus lebih beresiko mendapat stroke dan gagal jantung, dua penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Diagnosa penyakit diabetes melitus pada pasien lansia juga lebih sulit dan cenderung terlambat ditegakkan karena gejala klasik berupa poliuri (meningkatnya frekuensi berkemih), polidipsi (meningkatnya frekuensi minum), dan polifagi (meningkatnya frekuensi makan) tidak selalu tampak. Beberapa gejala yang tidak khas justru muncul seperti: kelemahan, perubahan tingkah laku, depresi, agitasi, demensia, mudah jatuh dan inkontinensia urin. Maka dari itu, tidak jarang pasien tidak menyadari ketika dirinya sudah menderita diabetes pada tahap yang sudah lanjut.

Mengobati penyakit diabetes melitus pada lansia

Dalam memberikan pengobatan penyakit diabetes melitus pada lansia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan , yakni :

  • Lansia cenderung kemampuan penglihatannya sudah berkurang sehingga kemungkinan besar tidak bisa membaca dan melihat dosis obat secara benar.
  • Secara mental, lansia tidak bisa minum obat tepat waktu sendirian dan harus dikontrol.
  • Secara fisik, para lansia tidak bisa mengambil obat atau melakukan suntik insulin sendirian.
  • Terlalu banyak obat yang harus diminum juga akan mempengaruhi glukosa darah.
  • Nutrisi yang buruk pada lansia bisa mengakibatkan hipoglikemia.
  • Fungsi ginjal dan hati menurun, sehingga beberapa obat diabetes bisa bertahan lama darah dan glukosa darah bisa turun.

Usia lanjut merupakan masa usia di mana terjadi perubahan-perubahan yang menyebabkan terjadinya kemunduran fungsional pada tubuh. Salah Mengingat hal-hal tersebut, pengobatan apapun termasuk penyakit diabetes pada lansia diperlukan seorang pendamping dan perlu ditangani dengan lebih berhati-hati, misalnya Insulin. Tidak berbeda dengan penderita penyakit diabetes melitus yang lain. Hanya saja pada lansia, perlu ada orang lain yang menyuntikannya dan lebih sering mengontrol glukosa darah. Jam suntik dan jam makannya juga harus lebih banyak diawasi sehingga tidak terjadi kekeliruan.

Diabetes Melitus Pada Lansia

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*